02 Juni 2014

Opiniku Sebuah Refleksi dari Segelintir Oknum Guru

 Wahyu D.P dari Blog Pribadi yang Lupa Akunnya (http://blogonblog-blogonblog.blogspot.com/)

Setelah diluncurkannya program sertifikasi guru (PNS) dan Guru Yayasan, praktis penghasilan guru meningkat. Pemerintah berusaha untuk memperhatikan dan menghargai guru dengan meningkatkan kesejahteraan mereka. Lalu, Sudah cukupkah itu?Sudahkah guru merasa cukup dengan penghasilan yang diterimanya termasuk tunjangan profesi (sertifikasi)? Sudah pantaskah jika negara menuntut profesionalisme, kompetensi dan peningkatan mutu pendidikan nasional? Sebelum ini seolah-olah gaji kecil adalah penghalang lahirnya kreatifitas, inovasi dan profesionalisme guru. Meskipun secara langsung maupun tidak, "iya". Meskipun secara langsung maupun tidak, "tidak". Coba, bayangkan, rumah guru dekat dengan sekolah dimana ia mengajar, bahkan ia dapat melihat secara jelas gedung sekolahnya tanpa penghalang, Begitu dekat ! 



Siswa-siswi masuk kelas dan ia mengajar. Anak-anak duduk di bangkunya melihat sekujur tubuh gurunya yang berpakaian rapi sambil mendengarkan senandung materi, tanpa berbuat apa-apa, sesekali mereka menjawab pertanyaan guru, mencatat dan mengerjakan tugas. Siswa-siswi ini menjadi ahli 3D (datang, duduk, diam). Inikah guru profesional?Pembelajaran seperti inikah yang diinginkan untuk meningkatkan mutu penidikan nasional? Tentu tidak..!!!. Pemberi tunjangan profesi tidak bisa menerima yang seperti itu, pemerintah minta yang lebih dari itu..!! Lalu apa yang dilakukan pemerintah?Melahirkan BERMUTU..!!! Guru, kepala sekolah, dan pengawas harus aktif di dalamnya....harus..!!! maka digelontorkanlah sejumlah dana kepada Kelompok-kelompok kerja guru entah yang namanya KKG, KKKS,MGMP atau apalah itu namanya.
Materi yang harus dipelajari guru dalam BERMUTU sangat bagus...dan pantas diacungi Jempol. Banyak keterampilan-keterampilan yang harus dikuasai guru ditampilkan disitu. Materinya sih inovatif, dan menantang untuk membuktikan kreatifitas.
Riang mereka menerima gelontoran uang rakyat itu. Satu bulan, dua bulan, bahkan satu periode mereka aktif sekali. Giliran periode berikutnya mulai terlihat, satu beralasan repot banyak kerjaan, yang satu beralasan menunggu teman dan pulang dulu, yang satu beralasan ada kepentingan keluarga, yang satu beralasan, yang satu beralasan...dan yang satu beralasan. Bahkan ada yang berujar "Apakah meningkatkan mutu pendidikan itu semudah membalikkan telapak tangan??" Dan mereka tidak berbuat apa-apa, membalikkan telapak tanganpun tidak..apa lagi menyingsingkan lengan ..?! dan mereka selalu berujar "Meningkatkan mutu pendidikan tidak semudah membalik telapak tangan..!!"

Sementara Guru lain begitu bersemangat meningkatkan kemampuan diri demi anak-anak didiknya, pontang-panting hingga kaki hinggap dikepala bagai tanduk si oknum guru terbahak mulut ternganga bak goa, riang membolak-balik telapak tangannya dan tetap pada pendiriannya bahwa "Meningkatkan mutu pendidikan tidak semudah membalik telapak tangan..!!"
Tanpa menghiraukan tingkah polah si oknum guru, guru lain sangat menyadari bahwa pendidikan di negara ini harus bagus...tak hentinya mereka memperluas pengetahuan, mempraktekkan hasil mereka menimba ilmu di depan siswa-siswi mereka. Tak lagi terpikir di benak mereka, berapa gaji yang mereka terima, berapa tunjangan yang telah mereka habiskan demi anak didiknya. Itulah yang terjadi sekarang "Nila setitik merusak susu sebelanga"
Hormatku untukmu guruku, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar